Salah satu bentuk penghargaan dalam bekerja adalah pujian. Selain penghargaan, pujian tulus atasan merupakan bentuk lain dari pengakuan, dorongan, dan motivasi untuk bekerja lebih baik lagi. Tak jarang, pujian bisa dijadikan indikasi baiknya form appraisal nanti, yang berkorelasi pada peningkatan status, termasuk kenaikan gaji.
Ragam pujian pun berbeda, bisa pada kedisplinan, sikap dan karakter, hingga kemampuan. Untuk yang terakhir, tak jarang pujian disematkan pada karya yang dihasilkan. Tentu akan membanggakan, jika karya yang kita buat dengan sepenuh hati, segenap pikiran dan tenaga, mendapat apresiasi positif dari atasan.
Tapi, lain lagi urusannya kalau pujian melayang pada hasil kerja yang kita anggap biasa, sepele, bahkan sempat terpikir untuk malas mengakuinya. Nah, jika sudah begini, masih nggak ya rasa bangga nyelip di dada?
Itu yang saya alami siang ini.
Salah satu petinggi kantor saya, yang kebetulan duduk satu meja saat makan siang, iseng tanya-tanya soal salah satu output materi promosi kantor. Saya pun menjawab sekadarnya. Bagi saya materi promosi yang ia tanyakan bukan satu hal yang patut saya banggakan.
Di luar perkiraan, beliau bilang kalau materi promosi yang dibikin tim saya, luar biasa (diucapkan dengan gerak tubuh motivator terkenal dan intonasi yang menggugah hati). Saya tersanjung. Tiga detik kemudian berganti heran. Saya kemudian bertanya di mana letak bagusnya. Masih dengan mimik seorang yang bertemu pahlawannya, ia menjawab pertanyaan saya.
Dan anehnya, itu tidak cukup membuat saya mengerti. Bagi saya, itu tetap suatu hal yang biasa. Tidak muluk. Tidak luarbiasa. Tidak juga istimewa. Hanya cukup mencapai tujuan komunikasinya. Semakin saya coba menerima pujiannya, semakin terasa aneh jadinya.
Sebuah paradoks.
Kecuali ia punya latarbelakang pemain teater, saya yakin ia tulus melontarkan pujian tadi.
Dan saat saya berpikir seperti itu, saya sadar bahwa saya dan dia, telah menggunakan standar yang berbeda menilai hasil karya (tim) saya. Walapun memang ada istilah ‘standar bersama’, sebuah bentuk kompromi atau persetujuan terhadap standar nilai pekerjaan tertentu. Namun, untuk kasus ini, standar yang saya anggap biasa, ternyata berpoin istimewa di mata beliau.
Hmm, jika ini berlaku pada atasan, bisa jadi ini berlaku pada klien saya. Selama ini, seringkali output materi promosi untuk klien selalu dinilai dengan standar tim. Standar, yang menurut saya, kadang terlalu dilebih-lebihkan dengan mengatasnamakan kreatif. Bolehlah kalau dibilang standar tersebut digunakan untuk kepuasan pribadi, pencapaian tim, dsb. Tapi, bagaimanapun juga, yang menentukan standar akhir tetaplah klien—yang merupakan sumber penghasilan kantor saya.
Jadi kalau klien sudah bilang oke, kenapa harus repot kerjar standar yang lebih tinggi?
Ya sebagai service lebih dong; Bukti kita kemampuan kita gak cuma segitu doang; Ya biar bisa diikutin citra pariwara lah; Dapet pujian klein kali....
Terus kejar billing targetnya kapan? :D
Saturday, June 6, 2009
Pujian
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments:
Post a Comment