Thursday, June 11, 2009

Gramedia: Enlightening Minds, Expanding Horizons


Mungkin karena sudah lama gak belanja buku di Gramedia, atau memang karena saya yang jarang memperhatikan, ternyata di shopping bag, bungkus plastik yang disertakan untuk membungkus barang belanjaan gramedia, ternyata memiliki slogan yang bagus sekali: Enlightening Minds, Expanding Horizons.

Tulisan ini ada persis ada di bawah tulisan logo ‘GRAMEDIA, Toko Buku’. Saya sendiri tidak tahu apakah slogan ini merupakan slogan resmi toko buku gramedia, atau hanya slogan yang bersifat sementara.

Terlepas dari semua itu, menurut saya slogan ini mengena sekali. Hanya dengan empat kata, gramedia dapat merangkum semua citra, tujuan, dan pelayanan mereka selama ini dengan tepat.

Yang jadi pertanyaan saya, kok slogannya ditulis menggunakan bahasa Inggris ya? Menurut saya, sebagai toko buku terbesar di Indonesia, yang menyediakan buku untuk dan melayani hampir seluruh lapisan masyarakat, bukan kah lebih baik jika slogan ditulis dalam bahasa Indonesia. Selain mudah dimengerti oleh pasarnya, penggunaan bahasa Indonesia tentu lebih memberi kesan ‘membumi’ bagi perusahaan sekelas gramedia.

Saya tidak mengerti apakah karena gramedia tidak dapat menemukan padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia, atau karena memang bahasa Inggris terdengar lebih mengena (dibaca dan dirasa lebih keren). Toh, pada akhirnya, slogan yang baik akan jadi percuma kalau tidak dimengerti pembacanya.

Hal lain yang menarik, penulisan slogan menggunakan huruf italic/miring. Gremedia seakan sadar penggunaan kata asing sebagai slogan, sehingga slogan ditulis italic. Belum lagi, jenis huruf yang digunakan pada slogan, berbeda dengan jenis huruf yang digunakan pada nama gramedia dan alamat situs di bagian bawah. Ah, untuk yang satu ini, mungkin para desainer grafis dan pakar tipografi lebih paham.

Kembali lagi soal penulisan slogan dalam bahasa Inggris. Saya rasa tidak akan berkurang rasa atau maknanya bila slogan ditulis dalam bahasa Indonesia. Misalnya ‘Menyuar Budi, Memperluas Cakrawala’. Artinya tetap sama, terdengar santun, dan lebih membumi.

Itu pendapat saya. Atau ada yang punya ide lain, atau pikiran lain mungkin?

Read More ..

Tuesday, June 9, 2009

Filosopi Politik Beringin


Cerita ini menarik bagi saya yang awam politik.

Sehabis makan siang di warung-padang langganan cerita ini mengalir. Saya, seorang teman, dan dua atasan berbincang ringan. Dari berita terkini, masalah kampanye dan kereta tunggangannya, hingga masalah sistem feodal orde baru.

Atasan saya, orang pernah merasakan hidup lebih damai dan tenang sebelum reformasi, tiba-tiba bercerita soal filosopi pohon beringin.

“Beringin merupakan pohon keramat di setiap kerajaan di Jawa. Karena itu pula, beringin ada hampir di semua halaman keraton raja-raja Jawa”, begitu kira-kira ia mulai bercerita.

Filosopinya seperti ini. Pohon beringin, memberikan rasa teduh dan nyaman bagi semua orang di bawah naungannya. Namun, beringin tidak akan memberikan kesempatan pada tumbuhan lain, termasuk gulma sekalipun, untuk bisa hidup di bawah teduhnya.

Atasan saya menambahkan. Tidak ada tanaman yang dapat hidup di sekitar beringin. Itu karena semua zat hara, zat-zat yang berguna bagi kelangsungan hidup tumbuhan akan terserap habis akar beringin. Ia pun menantang untuk membuktikannya. “Pernahkan ada yang melihat tumbuhan lain hidup di bawah naungan beringin?”. Saya mengangguk tanda tidak tahu.

Karena itulah—masih menurut atasan saya—beringin merupakan lambang filosopi yang paling bagus di bendera partai saat ini. Ini membuktikan sejarah kekuasaan feodalnya yang bertahan puluhan tahun di negara ini.

Hal lain yang menarik. Beringin tidak pernah tumbang atau patah sepeti kebanyakan pohon lainnya. Itu pula sebabnya, beringin hanya tumbang jika tercabut sekalian ke akar-akarnya. Dan hanya puting beliung yang bisa menumbangkan beringin. Satu lagi cara beringin tutup usia, hangus terbakar karena tersambar petir.

Karena itulah, jika beringin tumbang atau mati, sering dihubungkan dengan mitos seputar pemegang tahta (keraton).

Ketika atasan saya sampai pada keterangan itu, terlintas di benak saya, saat reformasi 98 bergema.

Ah, beringin, beringin.

Gambar pinjem di sini

Read More ..

Saat Harus Pergi


Menjadi berbeda itu berat. Lebih berat lagi sadar dan mengatahui bahwa perbedaan itu mencolok adanya.

Bila itu dalam sebuah organisasi bernama kantor, bisa lebih runyam. Sentimen dan penilaian subyektif kerap menambah beban. Muaranya, penurunan semangat kerja. Dan terakhir diikuti penilaian buruknya kinerja. Apalagi yang menilai kadung dikuasai perasaan, subyektif melihat persoalan.

Tidak semua orang berani mengakui. Sebagian mungkin mati-matian, menyoba beradaptasi. Sebagian lain, dengan alasan ekonomi, berlindung di kedok kompromi. Sedikit yang berani, menegakkan kepala, melangkah pergi.

***************
Saatnya pergi.

Saya tahu kita tak selalu sejalan. Tapi setidaknya saya pernah berada di situasi itu. Dengar. Jika kau putuskan pergi, pastikan bukan karena perbedaan, tapi keyakinan bahwa hamparan rejeki baru telah membentang.

Kemas saja semua rasa, jadikan modal usaha. Rangkum sedikit cerita tersisa dalam bundel pengalaman--bekal ke depan.

Selamat jalan kawan.

Read More ..

Monday, June 8, 2009

Sayang Ponsel? Asuransikan saja!


Jika ponsel adalah salah satu barang berharga anda, ada baiknya anda mulai berpikir mengasuransikan barang kesayangan tersebut. Loh kok bisa?

Ya, karena sekarang ada asuransi khusus untuk melindungi ponsel termasuk merek blackberry yang sedang marak belakangan ini. Expro seperti slogannya: mobile device insurance, menawarkan perlindungan bagi ponsel kesayangan dengan premi terjangkau dan bersahabat.

Asuransi ini melindungi/menjamin risiko kerusakan ponsel karena terjatuh, terkena air atau kehilangan atau kecelakaan. Bekerjasama dengan Sinar Mas, salah satu pemain lama di industri asuransi Indonesia, Expro menawarkan tiga produk asuransi unggulannya. Exprofirst!, Expronext, dan Expo Blackberry XL.

Exprofirst! adalah asuransi khusus untuk pembelian ponsel baru dengan premi 3% dari harga ponsel. Sebaliknya Expronext!, ditujukan untuk melindungi ponsel yang sedang anda gunakan sekarang. Besarnya premi beragam bergantung harga/nilai ponsel, dari Rp75 ribu hingga Rp200 ribu. Sedangkan Expo Blackberry XL adalah produk asuransi khusus, bekerjasama dengan XL, operator GSM, khusus melindungi ponsel blackberry bergaransi resmi MALIFAX.

Sayangnya di situs resminya, Expro kurang detil menjelaskan perlindungan risiko yang bisa diterima pembeli asuransi, apakah penggantian penuh, perbaikan dan pergantian sparepart, service, dan sebagainya.

Hingga saat ini, asuransi Expro telah melayani berbagai tipe dan merek seperti: Nokia, Sony Ericson, Motorola, LG Mobile, Blackberry, ZTE, dan Mito.

Dengan pengguna ponsel di tanah air yang mencapai lebih dari 100 juta blackberry sekitar 300 ribu (berdasarkan info dari majalah chip online), bisnis asuransi ponsel ini cukup pontensial sebenarnya. Sayang, saat saya berkunjung ke website-nya, sedikit sekali informasi yang bisa saya dapatkan. Website tidak mengindahkan ketersediaan informasi yang cukup dan user experience yang memuaskan.

Terlepas dari itu, Expro dengan produknya cukup jeli melihat celah pasar yang belum tergarap. Dengan pelayanan dan harga premi yang terjangkau, mungkin bisnis asuransi ponsel ini bisa berkembang satu atau dua tahun ke depan.

Gambar logo ditaut dari sini

Read More ..

Saturday, June 6, 2009

Pujian

Salah satu bentuk penghargaan dalam bekerja adalah pujian. Selain penghargaan, pujian tulus atasan merupakan bentuk lain dari pengakuan, dorongan, dan motivasi untuk bekerja lebih baik lagi. Tak jarang, pujian bisa dijadikan indikasi baiknya form appraisal nanti, yang berkorelasi pada peningkatan status, termasuk kenaikan gaji.

Ragam pujian pun berbeda, bisa pada kedisplinan, sikap dan karakter, hingga kemampuan. Untuk yang terakhir, tak jarang pujian disematkan pada karya yang dihasilkan. Tentu akan membanggakan, jika karya yang kita buat dengan sepenuh hati, segenap pikiran dan tenaga, mendapat apresiasi positif dari atasan.

Tapi, lain lagi urusannya kalau pujian melayang pada hasil kerja yang kita anggap biasa, sepele, bahkan sempat terpikir untuk malas mengakuinya. Nah, jika sudah begini, masih nggak ya rasa bangga nyelip di dada?

Itu yang saya alami siang ini.

Salah satu petinggi kantor saya, yang kebetulan duduk satu meja saat makan siang, iseng tanya-tanya soal salah satu output materi promosi kantor. Saya pun menjawab sekadarnya. Bagi saya materi promosi yang ia tanyakan bukan satu hal yang patut saya banggakan.

Di luar perkiraan, beliau bilang kalau materi promosi yang dibikin tim saya, luar biasa (diucapkan dengan gerak tubuh motivator terkenal dan intonasi yang menggugah hati). Saya tersanjung. Tiga detik kemudian berganti heran. Saya kemudian bertanya di mana letak bagusnya. Masih dengan mimik seorang yang bertemu pahlawannya, ia menjawab pertanyaan saya.

Dan anehnya, itu tidak cukup membuat saya mengerti. Bagi saya, itu tetap suatu hal yang biasa. Tidak muluk. Tidak luarbiasa. Tidak juga istimewa. Hanya cukup mencapai tujuan komunikasinya. Semakin saya coba menerima pujiannya, semakin terasa aneh jadinya.

Sebuah paradoks.

Kecuali ia punya latarbelakang pemain teater, saya yakin ia tulus melontarkan pujian tadi.
Dan saat saya berpikir seperti itu, saya sadar bahwa saya dan dia, telah menggunakan standar yang berbeda menilai hasil karya (tim) saya. Walapun memang ada istilah ‘standar bersama’, sebuah bentuk kompromi atau persetujuan terhadap standar nilai pekerjaan tertentu. Namun, untuk kasus ini, standar yang saya anggap biasa, ternyata berpoin istimewa di mata beliau.

Hmm, jika ini berlaku pada atasan, bisa jadi ini berlaku pada klien saya. Selama ini, seringkali output materi promosi untuk klien selalu dinilai dengan standar tim. Standar, yang menurut saya, kadang terlalu dilebih-lebihkan dengan mengatasnamakan kreatif. Bolehlah kalau dibilang standar tersebut digunakan untuk kepuasan pribadi, pencapaian tim, dsb. Tapi, bagaimanapun juga, yang menentukan standar akhir tetaplah klien—yang merupakan sumber penghasilan kantor saya.

Jadi kalau klien sudah bilang oke, kenapa harus repot kerjar standar yang lebih tinggi?

Ya sebagai service lebih dong; Bukti kita kemampuan kita gak cuma segitu doang; Ya biar bisa diikutin citra pariwara lah; Dapet pujian klein kali....

Terus kejar billing targetnya kapan? :D

Read More ..